Sabtu, 17 September 2016

LEGENDA, MITOS, DAN EPOS DESA BESITO GEBOG KUDUS

LEGENDA, MITOS, DAN EPOS DESA BESITO GEBOG KUDUS


        Legenda Desa Besito
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, legenda merupakan cerita rakyat pada zaman dahulu yang ada hubungannya dengan peristiwa sejarah. Selain itu, legenda juga dapat diartikan sebagai suatu cerita yang berkaitan dengan kebenaran sejarah, dan kurang berkaitan dengan masalah kepercayaan supranatural. Atau legenda sengaja dikaitkan dengan aspek kesejarahan, sehingga selain memiliki pijakan latar yang pasti, seolah-olah mengesankan bahwa ceritanya memiliki kebenaran sejarah.  Namun sebenarnya cerita yang dikisahkan itu tidak memiliki kebenaran sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan (Burhan Nurgiyantoro, 2010:25-26).
Sebenarnya nama asli Desa Besito adalah Mbesito yang merupakan singkatan dari“mugo-mugo bisaha eling sakabehane insyaallah tentrem ora ono opo-opo”. Kalimat tersebut mempunyai makna bahwa orang yang memberi nama Desa Besito mempunyai harapan agar desa tersebut dapat selalu nyaman dan tentram. Sedangkan sejarahnya sendiri bermula pada zaman keraton Mataram. Zaman dahulu, keraton mataram sedang mengalami suatu permasalahan yang begitu serius. Kemudian raja mataram mengadakan suatu sayembara. Sayembara tersebut mencari orang yang dapat menyelesaikan masalah yang dialami oleh keraton tersebut. Sebagai imbalannya, bagi orang yang dapat menyelesaikan masalah tersebut, maka orang itu akan diangkat sebagai patih di mataram. Kemudian berita tentang sayembara itu didengar oleh Ki Ageng Selo yang merupakan murid Sunan Kalijaga. Ki Ageng Selo berniat mengikuti sayembara tersebut, akhirnya beliau meminta restu kepada Sunan Kalijaga untuk mengikuti sayembara tersebut.
Setelah mendapat restu dari Sunan Kalijaga, Ki Ageng Selo mengikuti sayembara itu, dan akhirnya beliau memenangkan sayembara tersebut karena dapat menyelesaikan masalah yang ada di keraton mataram. Setelah memenangkan sayembara tersebut, Ki Ageng Selo menagih janji kepada raja mataram yang sebelumnya telah berjanji bahwa siapa saja yang dapat menyelesaikan masalah yang ada di keratonnya, maka orang tersebut akan dijadikan patih di keraton mataram. Namun, ternyata raja keraton mataram mengingkari janji dan tidak mengangkat Ki Ageng Selo menjadi patih. Karena merasa kecewa, kemudian Ki Ageng Selo pergi ke Kadilangu untuk membantu Sunan Kalijaga mengajar mengaji.
Ki Ageng Selo mempunyai dua orang anak, yaitu Suwargi Kerto Gento Kesumo dan Songko Sahilah. Kedua putra Ki Ageng Selo tersebut dimasukkan ke pesantren milik Sunan Muria di Colo. Setelah dewasa, kedua anak tersebut ingin mencari ayahnya yaitu Ki Ageng Selo. Kemudian mereka meminta petunjuk kepada Sunan Muria. Sunan Muria memberi arahan kepada mereka, beliau mengatakan bahwa mereka harus berpisah dan tidak boleh bersama dalam mencari ayahnya. Selain itu, Sunan Muria juga mengatakan bahwa jika mereka menemui jalan buntu, maka mereka harus berhenti dan mendirikan sebuah pesantren di tempat tersebut. Sedangkan jika jalannya tidak buntu, maka mereka harus meneruskannya. Sebagai murid yang berbakti kepada gurunya, mereka pun mengikuti perintah Sunan Muria tersebut. Kemudian mereka berpencar, yang satu ke barat dan yang satu ke timur.
Setelah Mbah Songko Sahilah sampai di Gemiring, ternyata beliau dihadapkan dengan daerah yang berair dan buntu, sehingga sesuai dengan perintah Sunan Muria yang mengatakan bahwa jika mereka menemui jalan buntu, maka mereka harus berhenti dan mendirikan suatu pesantren, maka Mbah Songko Sahilah pun berhenti dan mendirikan pesantren di daerah tersebut yang sekarang menjadi Masjid Gemiring Lor.  Demikian pula dengan Mbah Suwargi Kerto Gento Kesumo, setelah beliau sampai di Besito, ternyata beliau juga dihadapkan dengan jalan buntu dan berair atau yang disebut dengan telogo, kemudian beliau menghentikan perjalananya di daerah tersebut dan mendirikan sebuah pesantren yang sekarang menjadi punden mbah Suwargi Kerto Gento Kesumo atau yang lebih dikenal dengan Mbah Surgi yang terletak di dukuh telogo Desa Besito Kudus.
Dari legenda desa Besito tersebut, kami dapat menyimpulkan bahwa asal mula desa Besito bermula dari Mbah Suwargi Kerto Gento Kesumo yang mendirikan Pesantren di daerah telogo karena menemui jalan buntu ketika hendak melakukan pencarian ayahnya, Beliau pun berhenti di daerah tersebut karena mematuhi perintah gurunya yaitu Sunan Muria yang mengatakan bahwa jika beliau menemukan jalan buntu, maka Mbah Suwargi Kerto Gento Kesumo harus mengehentikan perjalanannya dan mendirikan sebuah pesantren di daerah tersebut.
Selain terdapat legenda Desa Besito secara umum, terdapat pula legenda pada setiap dukuh yang ada di Desa Besito di antaranya yaitu Dukuh Magangan, Dukuh Telogo, Dukuh Besito Lor, Dukuh Satu, Dukuh Kauman, Dukuh Modinan, Dukuh Tasgading, maupun Dukuh Bonalas. Berikut ini akan dijabarkan mengenai legenda di kedelapan dukuh tersebut.

Ø  Dukuh Magangan

Dukuh yang pertama yaitu Dukuh Magangan, sejarah terbentuknya Dukuh Magangan dimulai dari adanya proses pembuatan masjid di daerah tersebut. Pada saat itu, di daerah tersebut ingin dibangun sebuah masjid sebagai sarana mensyiarkan agama islam. Saat pembuatan masjid, banyak sekali pekerja yang ikut serta dalam proses pendirian masjid tersebut. Mereka yang ikut serta dalam pembangunan masjid tersebut adalah masyarkat sekitar yang beragama islam. Karena banyak terdapat pekerja itulah, maka daerah tersebut dinamakan dengan Dukuh Magangan. Sedangkan untuk siapa orang yang memberi nama daerah tersebut menjadi Dukuh Magangan, masyarakat setempat mempercayai bahwa Mbah Longso adalah orang yang memberi nama daerah tersebut, karena di Dukuh Magangan terdapat makam Mbah Longso. 

Ø  Dukuh Telogo
Dukuh yang kedua yaitu Dukuh Telogo, sejarah terbentuknya dukuh ini sebenarnya tidak terlepas dari sejarah Desa Besito. Dukuh  ini dinamakan dengan Dukuh Telogo karena konon daerah tersebut merupakan daerah yang berair atau juga bisa disebut dengan daerah yang dikelilingi oleh air, yang kemudian disebut dengan telogo. Menurut kepercayaan warga setempat, pendiri dan orang yang menamakan daerah tersebut menjadi Dukuh Telogo adalah Mbah Surgi. Karena makam atau punden Mbah Surgi terdapat di dukuh tersebut.

Ø  Dukuh Besito Lor
Dukuh yang ketiga yaitu Dukuh Besito Lor, dukuh ini dinamakan Dukuh Besito Lor karena dilihat dari letaknya yang memang  berada di sebelah utara Desa Besito. Dukuh ini menjadi perbatasan antara Desa Besito dengan Desa Jurang. Pada zaman dahulu, Dukuh Besito Lor terkenal dengan daerah pengrajin benda pusaka, karena memang dulunya di daerah tersebut banyak terdapat pengrajin benda pusaka. Selain itu, benda-benda pusaka yang dihasilkan dari daerah tersebut pun terkenal dengan kualitasnya yang sangat baik, sehingga banyak orang yang membeli atau memesan untuk dibuatkan benda pusaka oleh para pengrajin yang terdapat di daerah tersebut.

Ø  Dukuh 1
Dukuh yang keempat adalah Dukuh 1, dukuh ini terletak di sebelah barat Desa Besito, tepatnya di daerah pasar mbabrik yang terdapat di sebelah barat Dukuh Kauman. Daerah tersebut dinamakan dengan Dukuh 1 karena Dukuh 1 merupakan dukuh pertama yang terdapat di Desa Besito. Selain bernama Dukuh 1, dukuh ini juga sering disebut dengan  Dukuh Krajan. Dukuh ini dinamakan Dukuh Krajan karena konon dulunya di daerah tersebut terdapat suatu kerajaan. Sedangkan untuk siapa yang mendirikan dan orang yang memberi nama dukuh tersebut adalah Mbah Surgi, karena Mbah Surgi sendiri merupakan pendiri dan orang yang memberi nama Desa Besito.

Ø  Dukuh Kauman
Dukuh kelima yaitu Dukuh Kauman, Sejarah Dukuh Kauman dimulai dari adanya seorang wali yang datang ke daerah tersebut untuk menyebarkan agama islam. Pada awalnya wali tersebut ingin menyebarkan ajaran islam dengan cara mendirikan sebuah masjid di daerah tersebut. Namun, karena saat itu masyarakat setempat belum mengerti apa yang dilakukan oleh beliau, maka proses pembangunan masjid dihentikan dan wali tersebut memutuskan untuk berdakwah secara langsung. Pada awalnya warga setempat yang beragama islam sangat sedikit, namun lama kelamaan warga setempat akhirnya banyak yang masuk agama islam. Sehingga kaum islam di daerah tersebut bertambah. Karena terdapat banyak masyarakat yang masuk islam itulah, maka daerah tersebut dinamakan dengan Dukuh Kauman.

Ø  Dukuh Modinan
Dukuh yang keenam yaitu Dukuh Modinan, nama Dukuh Modinan berasal dari kata “modin” yang berarti kyai. Daerah tersebut dinamakan Dukuh Modinan karena memang dulunya di daerah tersebut banyak terdapat modin atau kyai. Modin atau kyai yang terdapat di daerah tersebut sering berkumpul di sebuah masjid dan mensyiarkan ajaran islam di daerah tersebut. Selain itu, yang dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai pendiri Dukuh Modinan adalah Mbah Surgi, karena Mbah Surgi sendiri merupakan pendiri sekaligus pemberi nama Desa Besito.

Ø  Dukuh Tasgading
Dukuh ketujuh adalah Dukuh Tasgading, nama Dukuh Tasgading berasal dari kata “tas” dan “gading”, dalam hal ini yang dimaksud dengan gading adalah gading gajah. Dukuh Tasgading dulunya merupakan suatu daerah yang banyak tedapat warung pelacuran. Dulu di daerah tersebut ramai dikunjunngi oleh lelaki hidung belang dari berbagai lapisan masyarakat. Baik dari kalangan biasa maupun dari kalangan elit (kaya). Namun, kebanyakan laki-laki yang datang ke tempat tersebut adalah laki-laki dari kalangan elit. Mereka datang ke tempat tersebut dengan membawa tas mewah yang gagangnya terbuat dari gading gajah. Karena itulah, maka daerah tersebut dinamakan dengan Dukuh Tasgading.

Ø  Dukuh Bonalas  
Dukuh yang terakhir yaitu Dukuh Bonalas, nama Dukuh Bonalas berasal dari kata “kebon” dan “alas”. Dalam bahasa Indonesia, alas berati suatu tempat yang dipenuhi dengan tumbuh-tumbuhan sehingga menyerupai hutan. Dulu di daerah tersebut sama sekali tidak ada manusia yang menempati dan membangun tempat tinggal di daerah tesebut, sampai akhirnya ada seseorang yang bernama Mbah Sigawe yang mendirikan sebuah gubug di daerah tersebut. Mbah Sigawe sendiri dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai orang yang memberi nama Dukuh Bonalas. Setelah Mbah Sigawe mendirikan sebuah gubug di daerah tersebut, lama kelamaan orang-orang yang belum mempunyai tempat tinggal akhirnya datang ke daerah tersebut dan mendirikan sebuah tempat tinggal. Dan akhirnya daerah tersebut tidak lagi berupa alas tetapi berubah menjadi sebuah pemukiman.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa pada setiap dukuh yang berada di Desa Besito mempunyai sejarah yang berbeda beda meskipun terdapat dalam satu desa. Selain itu, untuk siapa yang memberi nama dukuh-dukuh tersebut pun berbeda. Misalnya saja pada Dukuh Magangan dan Dukuh Bonalas, pada Dukuh Magangan, yang memberi nama dukuh tersebut adalah Mbah Longso, sedangkan pada Dukuh Bonalas yang memberi nama dukuh tersebut adalah Mbah Sigawe.

     Dongeng Rakyat Desa Besito
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dongeng merupakan cerita yang tidak benar-benar terjadi (terutama  kejadian zaman dahulu yang aneh-anehyang bukan atau tidak benar(uraian yang panjang itu dianggapnya hanya belaka). Selain itu, dongeng juga merupakan salah satu bentuk dari cerita tradisional. Dongeng biasanya diceritakan secara lisan dan secara turun-temurun oleh orang tua kepada anak yang ceritanya mengandung nilai moral (Burhan Nurgiyantoro,2010:23).
Dahulu kala, pada suatu hari Mbah Surgi bersama putranya melakukan sebuah perjalanan ke kediaman Sunan Muria yang ada di daerah Colo. Mereka ingin mengaji ke tempat Sunan Muria. Karena belum ada kendaraan, maka waktu itu mereka pergi ke kediaman Sunan Muria dengan berjalan kaki. Dalam perjalanan, anak Mbah Surgi menangis karena kelaparan. Sedangkan Mbah Surgi tidak membawa bekal. Mbah Surgi pun tidak tega melihat anaknya yang merintih kesakitan karena lapar itu. Kemudian Mbah Surgi mengambil sebuah batu dan  membungkus batu tersebut dengan sebuah serbet yang dibawanya. Mbah Surgi berkata kepada putranya bahwa batu yang telah dibungkus dengan serbet itu adalah sebuah makanan, padahal sebenarnya yang dibungkus dengan serbet itu adalah batu. Kemudian Mbah Surgi memberikan bungkusan tersebut kepada putranya yang menangis itu, namun Mbah Surgi melarang anaknya untuk membuka bungkusan itu, Mbah Surgi meminta agar putranya membuka bungkusan tersebut nanti ketika tiba di kediaman Sunan Muria. Putra beliau pun menuruti perintah ayahnya untuk tidak membuka bungkusan tersebut.
Hal ini dilakukan Mbah Surgi untuk mengelabui putranya dan agar putranya tersebut berhenti menangis. Usaha Mbah Surgi pun berhasil, Putra beliau akhirnya berhenti menangis karena percaya bahwa bungkusan yang diberikan ayahnya itu adalah makanan. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan ke kediaman Sunan Muria. Sepanjang perjalanan, putra Mbah Surgi tidak merintih kelaparan lagi, bahkan sangat semangat. Karena ia ingin cepat-cepat sampai di kediaman Sunan Muria dan memakan makanan dalam bungkusan yang dibawanya itu. Sesampainya di kediaman Sunan Muria, putra Mbah Surgi pun cepat-cepat membuka bungkusan yang dibawanya sepanjang perjalanan tadi. Dan ajaibnya, saat batu yang telah dibungkus serbet dibuka oleh putra Mbah Surgi, ternyata batu tersebut berubah menjadi ganyong atau yang sekarang sering disebut dengan jangklong.
Jadi dapat disimpulkan bahwa jangklong merupakan makanan yang berawal dari kesaktian mbah Surgi yang dapat merubah sebuah batu menjadi makanan yang dinamakan jangklong tersebut. Hal itu bermula saat anak Mbah Surgi yang menangis karena kelaparan saat perjalanan menuju ke kediaman Sunan Muria untuk mengaji. Karena waktu itu Mbah Surgi tidak membawa bekal, maka beliau membungkus batu dengan serbet yang kemudian menyerahkanya kepada putranya yang menangis.Dan sesampainya di kediaman Sunan Muria, batu tersebut berubah menjadi jangklong.Nilai-nilai yang terkandung dalam Dongeng di Desa Besito antara lain:
1.      Nilai Kebenaran
Berubahnya batu menjadi sebuah makanan yang diberi nama jangklong merupakan suatu kebenaran/fakta. Tetapi jika dipikir dengan akal manusia/logika sangatlah tidak mungkin terjadi, karena sebuah batu tidak akan bisa berubah menjadi makanan, tetapi hal ini benar-benar terjadi pada zaman dahulu.
2.      Nilai Kebaikan/Nilai Moral (etika)
Ketika itu Mbah Surgi berpesan kepada anaknya untuk tidak membuka bungkusan serbet itu sebelum sampai di kediaman sunan muria, putra mbah surgi pun patuh terhadap pesan yang disampaikan oleh mbah surgi. Jadi dalam hal ini, dongeng yang terdapat di Desa Besito tersebut terdapat suatu nilai moral bahwa seorang anak hendaknya memang harus mematuhi perintah orang tuanya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam dongeng rakyat di Desa Besito adalah adanya nilai kebenaran dan nilai moral atau kebaikan. Dari dongeng rakyat tersebut kita dapat menarik kesimpulan bahwa sebagai seorang anak sudah seharusnya patuh pada perintah orang tua, karena pada umumnya apa yang diperintahkan orang tua kepada anaknya pasti akan berdampak baik pada diri anak tersebut. Selain itu,  dari dongeng tersebut juga terlihat bahwa orang tua pasti akan melakukan apapun untuk anaknya..
     Mitos di Desa Besito
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, mitos merupakan cerita suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dahulu yang mengandung penafsiran tentang asal usul semesta alam, manusia, dan bangsa tersebut mengandung arti mendalam yang diungkapkan dengan cara gaib. Mitos juga dapat diartikan sebagai sebuah cerita yang berkaitan dengan dewa-dewa atau tentang kehidupan supranatural yang lain. Mitos biasanya menampilkan cerita-cerita tentang kepahlawanan, asal-usul alam, manusia, atau bangsa yang dipahami mengandung sesuatu yang suci, yang gaib. Sebenarnya kebenaran suatu mitos dapat dipertanyakan, namun pada umumnya masyarakat tidak pernah mempersoalkannya (Burhan Nurgiyantoro,2010:24).

Di Desa Besito terdapat beberapa mitos yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Mitos-mitos tersebut antara lain yaitu, di Desa Besito terdapat sebuah mitos yang mengatakan bahwa warga Desa Besito tidak boleh menikah dengan warga Desa Jurang. Katanya dulu sesepuh Desa Besito yang bernama Mbah Gempur berselisih paham dengan Mbah Wisono yang merupakan sesepuh Desa Jurang. Mereka berselisih paham karena Mbah Wisono cemburu dengan kesuksesan yang diraih Mbah Gempur. Akhirnya mereka berkelahi sejak matahari terbit sampai matahari terbenam. Setelah itu, kerena merasa tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang dan kalaupun pertarungan itu dilanjutkan tidak akan pernah selesai, akhirnya merekapun menghentikan perkelahian tersebut dan mbah Wisono mengatakan bahwa jangan sampai anak cucunya menikah dengan anak keturunan Mbah Gempur. Demikian pula dengan Mbah Gempur, beliau juga mengatakan bahwa jangan sampai anak cucunya menikah dengan anak cucu mbah Wisono yang ada di Jurang.
Konon jika sumpah dari kedua sesepuh tersebut dilanggar maka akan terjadi musibah yang menimpa rumah tangga pengantin yang menikah tersebut. Seperti salah satu dari pasangan tersebut akan meninggal, rumah tangganya akan berantakan, dan menjadikan rumah tangga pasangan tersebut tidak akan bahagia. Namun, semua hal itu tidak akan terjadi jika pasangan tersebut melaksanakan tulaknya (syaratnya) yaitu dengan menyembelih seekor domba dan dimakan bersama-sama dengan warga sebanyak enam puluh orang atau lebih dan tidak boleh kurang dari jumlah tersebut.
Selain mitos diatas juga terdapat suatu mitos yang mengatakan bahwa di makam Mbah Surgi dulunya terdapat seekor jelmaan harimau dan dua jelmaan ular, dan sampai saat ini katanya harimau tersebut juga masih berada di makam tersebut. Namun konon hanya orang-orang yang mempunyai kemampuan khusus atau indra keenam saja yang dapat melihat harimau tersebut.
Jika ada seseorang yang datang ke makam Mbah Surgi dan mempunyai niatan yang tidak baik, maka konon orang tersebut akan diberi pelajaran oleh harimau yang terdapat di makam Mbah Surgi. Selain terdapat harimau, di makam Mbah Surgi juga terkadang terdapat dua ular yang menampakkan diri. Tidak seperti harimau yang hanya bisa dilihat oleh orang yang mempunyai kemampuan khusus saja, ular ini terkadang bisa menampakkan dirinya dan dapat dilihat oleh orang awam atau orang yang tidak mempunyai kemampuan khusus seperti indra keenam.
Selain itu  menurut narasumber ada juga mitos yang mengatakan bahwa anak cucu keturunan mbah Surgi di desa Mbesito tidak boleh membuat rumah beratapkan genting sampai tujuh keturunan. Namun mitos tersebut sepertinya sudah mulai ditinggalkan oleh para penduduk, karena penduduk asli di Desa Besito sudah dimulai dari keturunan ke delapan dan para penduduk lainya merupakan pendatang.
Dari Mitos di atas kami dapat menyimpulkan bahwa di Desa Besito berkembang suatu Mitos yang mengatakan bahwa warga Desa Besito dilarang menikah dengan warga Desa Jurang. Namun, sekarang ini masyarakat Desa Besito ada yang sudah tidak mempercayai hal tersebut. Karena terbukti dengan adanya warga Desa Besito yang menikah dengan warga Desa Jurang. Selain itu, di Desa Besito juga terdapat kepercayaan yang mengatakan bahwa di makam Mbah Surgi terdapat jelmaan seekor harimau dan dua ekor ular yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang mempunyai kemampuan khusus yang menjaga makam mbah Surgi dari perilaku orang-orang yang berniat tidak baik. Adapula mitos yang mengatakan bahwa warga Desa Besito anak cucu keturunan mbah surgi tidak boleh membangun rumah beratapkan genting dari tanah liat, namun mitos tersebut sekarang sudah tidak dipercaya oleh warga sektiar dan tidak ada penjelasan yang jelas mengenai mitos tersebut.
Berikut ini merupakan larangan, hukuman, syarat dan waktu pelaksanaan mitos yang terdapat di Desa Besito:
No.
Larangan
Hukuman
Syarat
Waktu
1.
Warga Desa Besito tidak boleh menikah dengan warga Desa Jurang.
Adanya bala atau musibah yang akan diterima oleh pasangan yang telah menikah.
Adanya ritual dengan cara menyembelih domba yang kemudian dimakan oleh 60 orang.
Pada saat ada warga Desa Besito yang menikah dengan warga Desa Jurang.
2.


Datang ke makam atau punden Mbah Surgi  dengan niatan yang tidak baik.
Akan mendapat bala atau musibah.
-
Ketika ada orang yang datang ke makam Mbah Surgi.
3.
Selama tujuh keturunan anak cucu Mbah Surgi tidak boleh menjadikan genting sebagai atap rumah.
-
Penggunaan genting diganti dengan bahan lain.
Ketika ada yang mendirikan rumah.

Nilai-nilai yang terkandung dalam mitos di Desa Besito antara lain:
1.      Nilai Dominan
Bahwa banyaknya warga Desa Besito yang percaya dan masih menjunjung tinggi mitos di desa mereka, bahwa warga Desa Besito tidak boleh menikah dengan warga Desa Jurang.
2.      Nilai Moral
Adanya kepatuhan warga di kedua desa tersebut untuk tetap menjunjung tinggi kepecayaan adat istiadat di desa mereka.
3.      Nilai Immaterial
Yaitu peraturan adat yang ada di Desa Besito, bahwa warga desa mereka tidak boleh menikah dengan warga Desa Jurang.
4.      Nilai yang Mendarah Daging
Yaitu kebiasaan warga di Desa Besito untuk tidak melanggar pantangan yang terdapat di desa mereka, yaitu untuk tidak menikah dengan warga Desa Jurang.
5.      Adanya kecemburuan sosial antara Mbah Wisono yang merupakan sesepuh Desa Jurang dengan kesuksesan yang telah diraih Mbah Gempuryang merupakan sesepuh Desa Besito,yang mengakibatkan terjadinya pertikaian dan menjadi cikal bakal mitos warga Besito tidak boleh menikah dengan warga Jurang.
        Epos di Desa Besito
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia epos merupakan cerita kepahlawanan, syair panjang yang menceritakan riwayat perjuangan seorang pahlawan. Selain itu, epos jugadapat diartikan sebagai sebuah cerita panjang yang berbentuk syair (puisi)dengan pengarang yang tidak pernah diketahui, anonim (Burhan Nurgiyantoro,2010:26).
Di Desa Besito dulunya merupakan suatu daerah yang dipenuhi dengan veteran yang menjadi pahlawan kemerdekaan. Oleh karena itu, dulu terdapat suatu tugu veteran yang kemudian dibongkar dan dibangun tugu besito yang terletak di pertigaan samping SMK Raden Umar Said di Desa Besito. Salah satu tokoh pahlawan yang ada di Desa Besito adalah H. Abdul Salam. Konon beliau padazaman penjajahan dapat mengangkat kereta dan merubahnya menjadi pelepah pisang saat didekati penjajah Belanda.
Jadi dapat disimpulkan bahwa di Desa Besito terdapat para tokoh kepahlawanan kemerdekaan yang dulunya juga sempat dibangun tugu veteran sebagai tanda penghormatan, namun sekarang sudah dibongkar dan diganti dengan tugu besito.  Dan salah satu tokoh pahlawan yang ada di desa tersebut adalah H.Abdul Salam yang mempunyai kemampuan luar biasa seperti dapat mengangkat kereta dan mengubahnya menjadi pelepah pisang.
Nilai-nilai yang dapat diambil dari epos Desa Besito adalah dari tokoh pahlawan H. Abdul Salam, sifat kepahlawanannya yang bisa mengelabuhi penjajah Belanda agar penjajah Belanda tidak jadi menjajah Desa Besito. Kemudian adanya tugu veteran, karena dapat melambangkan rasa nasionalisme. Jika nilai-nilai tersebut diajarkan kepada anak didik agar mereka dapat menghargai jasa-jasa pahlawan yang telah berjuang untuk memerdekakan bangsa Indonesia dan diharapkan bisa menumbuhkembangkan rasa nasionalisme.
Di Desa Besito dahulunya merupakan suatu daerah yang dipenuhi dengan veteran yang menjadi pahlwan  kemerdekaan. Oleh karena itu, dulu dibangun tugu veteran yang sekarang sudah dibongkar dan dibangun tugu Besito yang terletak di pertigaan samping SMK Raden Umar Said di Desa Besito.  Di Desa Besito terdapat beberapa tokoh pahlawan dan salah satunya adalah H. Abdul Salam. Konon beliau pada zaman penjajahan dapat mengangkat dan merubah kereta api menjadi pelepah pisang pada saat dijajah Belanda, H. Abdul Salam melakukan hal tersebut bertujuan untuk mengelabuhi penjajah Belanda, agar penjajah Belanda untuk mengurungkan niatnya untuk menjajah Desa Besito.
Jadi dapat disimpulkan bahwa di Desa Besito terdapat tugu veteran yang sudah dibongkar kemudian dibangun tugu Besito. tokoh pahlawan yang ada di Desa Besito adalah H. Abdul Salam, karena beliau dapat merubah kereta api menjadi pelepah pisang yang bertujuan untuk mengelabuhi penjajah Belanda, agar penjajah Belanda tidak menjadi menjajah Desa Besito.

Sejarah Desa Jurang

Sejarah Desa Jurang


Menurut sejarah, Desa Jurang Kecamatan Gebog Kabupaten Kudus tidak terlepas dari Raden Muhammad Syarif. Beliau adalah putra bungsu dari Bupati Sumenep (Macan Wulung Yudonegoro). Raden Muhammad Syarif bersama keponakannya putri yang baru berumur 3 tahun melakukan pengembaraannya dari Sumenep melalui jalur laut kearah barat dengan berbekal sebuah gentong, Kitab Suci Al Qur’an, baju pusaka dan empat buah kelapa untuk mengarungi laut jawa. Setelah perjalanan laut beberapa lama sampailah di daratan pesisir Jepara.
Dari pesisir Jepara Raden Muhammad Syarif melanjutkan perjalanannya lewat jalur darat, melewati Desa Mantingan - Syaripan - Mayong - Tunggul Syaripan - Gebog - Buloh - Geringging - Jurang - Ngepon - Manisan - Ngaringan - Gerjen - Ndurenan. Dari semua Desa yang disinggahi Raden Muhammad Syarif, beliaulah yang memberi nama asal usul desa tersebut.

Dari Desa Geringging Raden Muhammad Syarif melanjutkan perjalanannya kearah barat dan berhenti pada sebuah tempat dimana beliau menjumpai Desa/pedukuhan yang banyak jurang dan curam. Sehingga beliau mulai saat itu menamai Desa tersebut dengan sebutan “Desa Jurang”.

Selasa, 23 Agustus 2016

Puteran Pandak

BUKIT PUTERAN, PETILASAN KANJENG SUNAN


mengenal warisan sejarah yang terlupakan



Pemandangan di bukit Puteran
Foto : Sulis



Sunan Muria dikenal sebagai salah satu ulama di tanah Jawa yang hingga kini makamnya ramai dikunjungi. Di sekitar pemakamannya, terdapat banyak tempat yang diyakini menjadi petilasan kanjeng sunan. Salah satunya adalah bukit Puteran. Disebut bukit Puteran karena dulu, menurut tutur-tinular warga setempat, tempat ini menjadi tempat peristirahatan kanjeng sunan dan menjadi tempat “parkir” kuda yang ia gunakan. Selain disebut Puteran, bukit ini juga memiliki sebutan lain. Salah satunya adalah Segolek. Disebut demikian karena, menurut mitos warga setempat, tempat ini memiliki “penjaga” yakni sosok boneka yang dalam bahasa Jawa disebut golek. Boneka tersebut bernama Golek Kencono.


Bukit ini juga biasa disebut Segolek
Foto : Sulis

Bukit ini terletak di Pandak, salah satu dusun yang ada di Desa Colo, Kabupaten Kudus. Bukit ini sendiri biasa dipakai sebagai tempat peristirahatan oleh kawula muda, baik untuk tempat kemah atau sekedar menikmati sore bersama. Hanya saja akses menuju tempat ini, beberapa meter sebelum lokasi, cukup sulit dijangkau kendaraan bermotor. Namun jika membawa kendaraan bermotor, bisa diparkir di rumah penduduk setempat yang dikenal ramah-tamah. Dengan udara sejuk yang bisa dirasakan di sana, bukit ini menjadi tempat yang laik dikunjungi

Asal Usul dan Sejarah Jenglot

Misteri Jenglot dan Asal Usul Jenglot

Misteri Mumin - Misteri Jenglot dan Asal Usul Jenglot
Tulisan Misteri Jenglot dan Asal Usul Jenglot bermula dari rasa penasaran saya kepada makhluk kecil yang bernama jenglot (diberinama Jenglot).saya mengadakan tanya jawab kepada orang orang yang memilik jenglot atau orang yang pernah melihat jenglot dan pada orang yang sempat mendapat penjelasan mengenai jenglot dari orang yang pernah memiliki jenglot.saya juga mencari referensi di internet mengenai jenglot dan akan saya uraikan disini semua mengenai jenglot yang saya tahu dan yang saya dapatkan dari berbagai sumber.
untuk pertama saya akan share pembahasan jenglot yang saya dapat dari internet
Misteri Jenglot dan Asal Usul Jenglot
Jenglot adalah figur berbentuk manusia yang berukuran kecil (sekitar 10-17 cm), berkulit gelap dengan tekstur kasar (seperti mumi), berwajah seperti tengkorak dan bertaring mencuat, serta memiliki rambut dan kuku yang panjang. Jenglot ditemukan di beberapa wilayah di nusantara, misalnya Jawa, Kalimantan,dan Bali. Jenglot dipercaya memiliki kekuatan mistis dan memakan darah manusia. Masyarakat Indonesia meyakini jenglot sebagai makhluk yang memiliki kekuatan mistik dan dapat mengundang bencana.
Secara sosio realistis jenglot merupakan binatang yang sangat lambat dalam bergerak hingga tak mungkin dapat bertahan hidup lama, jenglot hidup di hutan belantara penuh dengan pohon raksasa tempat persembunyiannya. jenglot hanya mampu keluar dimalam hari karena tak ada binatang buas dan manusia yang akan mengganggunya dan menyebabkan kepunahan. Dan dalam mitos jenglot dianggap memiliki kesaktian/kekuatan mistis seumpama dewa wisnu dengan sakti garuda dan siwa dengan sakti lembu (sakti=wahana/kendaraan/wadah/istri) Secara medis, jenglot didefinisikan sebagai bukan makhluk hidup setelah diteliti oleh tim forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Melalui foto sinar Rontgen, tidak ditemukan unsur tulang (sebagai penyangga organ mahluk hidup) namun hal yang mengejutkan justru diperoleh dari penelitian DNA lapisan kulit jenglot yang mengelupas.
Setelah diperiksa oleh Dokter Djaja Surya Atmaja dari Universitas Indonesia, ternyata lapisan kulit itu memiliki DNA mirip primata sejenis manusia. Akan tetapi, penyelidikan asal usul jenglot secara medis hanya dihentikan sampai di sana karena pemilik jenglot tidak mengizinkan jenglot dibedah, agar tidak ada hal buruk yang terjadi.
Legenda jenglot juga diangkat ke dunia hiburan, terutama untuk tema misteri dan supranatural. Film Indonesia berjudul Jenglot Pantai Selatan disutradarai oleh Rizal Mantovani, dirilis pada Februari 2011.
Sumber wikipedia




Apa jenglot bergerak? 
Jangan pernah berharap jenglot dapat bergerak, berjalan, berlari atau semacamnya. Menurut sumber sumber yang aku denger, mereka memang bergerak namun hanya gerakan gerakan kecil yang mungkin tidak akan kita sadari.
Jika ingin melihat gerakan-gerakan terserbut tentu saja kita harus menggunakan kamera tersembunyi, mengintai makhluk aneh tersebut 24 jam.

Jenglot adalah manusia?
Penelitian yang dilakukan Dokter Djaja Surya Atmaja, PhD, dari Universitas Indonesia menunjukkan bahwa contoh kulit Jenglot yang diperiksa memiliki karakteristik sebagai DNA (deoxyribosenucleic acid) manusia.
"Saya kaget menemui kenyataan ini," kata Djaja, doktor di bidang DNA forensik lulusan Kobe University, Jepang, 1995.
Namun Djaja menolak anggapan seolah ia mengakui Jenglot sebagai manusia. "Tapi sampel yang saya ambil dari Jenglot menunjukkan karakteristik manusia," katanya.

Adapun sampelnya berupa sayatan kulit Jenglot berukuran setengah luas kuku, yang mengelupas dari lengannya. Contoh kulit itulah yang kemudian ditelitinya di Laboratorium RSCM atas prakarsa dan biaya pribadi. Spesimen seirisan kulit bawang itu kemudian diekstraksi agar DNA-nya keluar dari inti sel. DNA merupakan material genetik berupa basa protein panjang yang membangun struktur kromosom.

Pada inti sel manusia terdapat 23 pasang kromosom. Masing-masing bisa dipenggal-penggal menjadi banyak lokus, satu unit yang membangun sifat bawaan tertentu. Djaja memeriksa DNA Jenglot pada lokus nomor D1S80 dari kromosom 1 dan HLA-DQA1 dari kromosom 5, serta lima lokus khusus lain dengan teknik PCR (polymerase chain reaction). Pemeriksaan HLA-DLA-DQA1 memberikan hasil positif. Artinya, spesimen Jenglot itu berasal dari keluarga primata -bisa monyet, bisa pula manusia. Namun dari penyelidikan atas lokus D1S80, Djaja mendapat kepastian bahwa sampel DNA itu berkarakteristik sama dengan manusia. Temuan mengejutkan itu diperkuat dengan kajian mesin PCR. "Hasilnya begitu, saya harus bilang apa," kata satu-satunya ahli DNA forensik Indonesia berusia 37 tahun itu. Sayangnya sang pemilik Jenglot tidak memperbolehkan para peneliti untuk mengotopsi benda tersebut lebih lanjut karena menganggap bahwa ia adalah mahluk hidup.

Apa Jenglot cuma terdapat di Indonesia?
Banyak yang mengatakan Jenglot asli dari Indonesia saja, namun banyak juga yang mengatakan Jenglot tidak hanya berasal dari Indonesia namun juga dari Malaysia dan Thailand.
Dan menurut sumber yang lain dan menurut pendapat pendapat yang saya ketahui dari orang orang yang pernah memiliki jenglot dan dari orang yang pernah mendapat penjelasan dari orang yang pernah memiliki jenglot dari dari sumber sumber yang lain akan saya bahas di postingan berikutnya.

Sejarah asal mula jenglot

Jenglot mungkin adalah sebuah pembahasan yang tidak ada akhirnya,berbagai penelitian telah dilakukan termasuk memeriksa DNA dari jenglot itu sendiri dan hasilnya mungkin cukup mengejutkan struktur DNA jenglot hampir sama dengan manusia.Konon jenglot yang merupakan pengjelmaan dari batara karang atau bhetara karang ini adalah mahluk yang dapat hidup.

Mereka banyak diburu dan dicari namun tidak sedikit yang menemukannya secara tidak sengaja.Tidak sedikit yang mencari jenglot untuk dijadikan sebagai jimat penjaga keselamatan namun tak sedikit juga yang merasa khawatir dengan keberadaan jenglot di lingkungannya karena konon jenglot sangat suka menghisap darah manusia.

Jenglot katanya harus diberi makan darah manusia dan minyak japaron atau bisa juga dengan sesajen kembang tujuh rupa.

Hingga saat ini sejarah asal mula jenglot tidak pernah diketahui dengan jelas,ini masih menjadi spot misteri yang harus dipecahkan.Beberapa versi mengatakan bahwa jenglot adalah penjelmaan dari batara karang.Versi lain mengatakan bahwa sebenarnya jenglot adalah orang yang mempelajari ilmu hitam dan apabila orang tersebut mati maka dia akan menjadi jenglot.Ada juga yang percaya bahwa jenglot adalah jin sehingga dalam memberikan makannya tidak perlu memakai darah manusia,cukup dengan minyak japaron.

Seandainya anda adalah orang yang skeptis dengan keberadaan jenglot dan mitos yang menyertainya maka itu adalah sebuah hal yang wajar karena di zaman seperti ini,orang-orang akan lebih percaya kepada hal yang bersifat logis.Tapi dibalik itu semua,fenomena jenglot yang rambut,gigi dan kukunya bisa memanjang adalah sebuah fakta aneh yang sampai sekarang belum bisa terungkap.

Andaikan jenglot adalah buatan manusia,bagaimana caranya dia menumbuhkan rambut,gigi dan kuku jenglot?Bagaimana anda bisa menjelaskan jenglot yang tiba-tiba ada di rumah anda,misalnya?Apalagi penampakan jenglot konon selalu didahului oleh pertanda mimpi.Bila jenglot tersebut ingin mempunyai tuan maka dia akan datang kepada orang yang cocok dengannya namun bila anda ingin mempunyai jenglot,tampaknya anda harus berburu untuk mendapatkannya.

Sadar atau tidak,selalu ada sisi lain di kehidupan ini.Jenglot akan terus ada mengisi setiap abad di kehidupan masyarakat indonesia.Mungkin kita harus berbangga karena hanya di indonesia jenglot berada.Percaya tidak percaya,jenglot itu ada.Dan itu semua hanya ada di Indonesia.
Sejarah asal mula jenglot masih menjadi pekerjaan rumah bagi anda yang tertarik dengan dunia dan benda berbau mistik.

Golek Kencana


Pusaka Golekan Kencana, Boneka Emas Bangsa Jin

Pusaka Golekan Kencana, Boneka Emas Bangsa Jin
Dimensilain.com – Golekan Kencana, nama benda bertuah yang cukup terkenal di kalangan pecinta benda bertuah. Konon, golekan kencana adalah boneka emas mainannya bangsa jin. Golekan Kencana ini umumnya berada di daerah angker yang dihuni oleh bangsa jin. Salah satu lokasi angker yang konon dikabarkan ada Golek Kencananya yakni di dusun Mindi, tepatnya di pohon beringin besar yang ada sedang kampung di dusun tersebut. Untuk warga masyarakat yang bertempat tinggal di dusun tersebut, tentunya tidak asing lagi bila mendengar cerita keberadaan Golekan kencana ini.
Nali, pria 46 th, salah satu orang pintar warga Mindi menyatakan bahwa Golekan Kencana yang ada di pohon beringin tersebut sudah beberapa kali dicoba untuk diambil oleh orang-orang yang ingin memilikinya, tapi belum ada yang berhasil.“banyak yang ingin mengambilnya, tapi belum ada yang berhasil mas”, ujar Nali kepada kami, 18/03/2013.
Ditanya siapa dan dari mana orang yang mengambilnya, Nali mengungkapkan bahwa semua yang datang adalah orang luar kampung, bukan dari kampung Mindi sendiri. “Mereka orang luar, bukan dari kampung sini. Mereka tahu kalau di beringin ini ada golekan kencana mungkin dari mimpi atau petunjuk orang pintar”, papar Nali.
Mengenai mengapa bukan orang kampung Mindi yang mengambilnya, Nali mengatakan jika masyarakat Mindi tidak tertarik dengan benda-benda semacam itu.“masyarakat sini memang sudah lama tahu dan percaya bahwa di beringin ini ada golekan kencana, tapi masyarakat tidak mau mengambil karena memang tidak tertarik dengan hal-hal yang begitu. Ya dibiarkan saja. Itung-itung buat pusaka kampung dan tidak perlu diambil”. ungkap Nali.
Pohon beringin besar di kampung Mindi ini sepintas kilas tampak dalam padangan mata orang awam biasa-biasa saja dan tak menampakkan kesan angker ataupun wingit. Menurut kabar yang telah lama kami dengar bahwa di lokasi ini ada benda gaibnya yang bernama “Golekan Kencana” nya. Golekan Kencana berasal dari bahasa Jawa. Golekan artinya Boneka dan Kencana artinya Emas, jadi Golekan Kencana artinya Boneka yang terbuat dari emas. Diyakini Golek Kencana ini ialah mainannya bangsa jin khususnya jin dari kalangan kanak-kanak dan termasuk benda gaib. Oleh sebab itu, hanya mereka yang berjodoh saja yang diyakini bisa memiliki boneka dari alam gaib ini.
Ditanya mengenai kenapa belum ada yang berhasil mendapatkan golekan kencana tersebut, Nali menyatakan bahwa semua karena belum ada jodoh atau belum takdir.“ya belum berjodoh saja mas, yang begitu itu memang tidak gampang, kadang orang yang tidak menginginkannya malah bisa mendapatkannya, yang bersusah payah berupaya malah tidak mendapatkannya”. tambah Nali.
Mengenai tuah atau manfaat Golekan Kencana, Menurut Nali, Pusaka Golekan Kencono ini di huni oleh sesosok wanita cantik yang bernama Dewi Nawangsari. Menurut nali Pu
n/kelimpahan rejeki, Pengasihan tingkat tinggi, Daya pikat atau daya tarik alami, Pegangan atau piandel orang yang berkecimpung dalam dunia bisnis (pengusaha, dagang, peternak dan lain-lain), Kedudukan/ junjung derat/ mudah naik pangkat/ jabatan dan lain-lain.
“ya namanya sarana mas, bukan saka Golekan kencana ini banyak diburu lantaran berguna untuk sarana Kerejekiapenyebab. Semua itu adalah hanya karena Allah semata. Bukan karena golekan kencana itu. Ibaratnya begini, obat atau pil bodrex bisa sebagai sarana penyembuhan sakit kepala, tapi kesembuhan itu sendiri datangnya ya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan Yang Mahakuasa, bukan dari obat atau pil bodrex itu”.
http://dimensilain.com/pusaka-golekan-kencana-boneka-emas-bangsa-jin/#sthash.6uFqhoBf.dpuf